"Asslaamualaikum, ya boss pa kabar…iya aku pulang hari jumat jam 11 siang…gak usah di jemput Pak, kasihan "pian" puasa, entar aku naik taxi or charteran mobil aja."
"Insyaallah kalo keterima, kan masih test Pak. Cukup kok uangnya di Jakarta, cuman pingin nyoba aja, siapa tahu keterima.Kan nanti "Pian" bisa berkunjung…heheheh."
Sepenggal pembicaraan via telepon dengan Bapak sehabis sahur 2 hari yang lalu. Ada sedikit kekhawatiran terdengar dari suara beliau ketika menanyakan keinginanku untuk pindah dari Jakarta. Beberapa bulan yang lalu aku pernah cerita tentang keinginanku ke Bapak, dan saat itu Bapak sih mengiyakan saja, karena beliau faham banget tabiatku, kalo ada yang aku iginkan, aku pasti akan berusaha mewujudkannya. Keras kepala….biasanya Bapak bilang begitu.
Sama sewaktu aku memutuskan kuliah di Surabaya, tanpa ada keluarga disana. Ibu udah khawatir saja, namun aku membuktikan bahwa aku bisa hidup sendiri di Kota Sura dan Buaya tsb. aku buktiin dengan nilai-2 IPK yang bisa dibilang bagus, dan aku ikut les-les serta magang. Tahun ke 2 kuliah aku sudah bisa punya penghasilan sendiri dan hanya meminta kiriman 1/2 dari orang tua.
Kejadian terulang lagi ketika aku memutuskan pindah ke Jakarta setelah menamatkan kuliah. Kembali Ibu meminta aku untuk pulang ke Bontang. Namun mungkin karena jiwa aku sudah terlalu dinamis dan pengaruh Surabaya yang panas dan mobilitas tinggi, aku akhirnya tetap memutuskan pindah ke Jakarta. Sama dengan Surabaya di Jakarta aku pun hidup sendiri, beruntunglah aku menemukan orang-orang yg bisa aku jadikan kakak dan saudara.
Aku terlahir sebagai anak terakhir di keluarga, dengan 2 orang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan membuat keluarga kami begitu bahagia. Sedari kecil aku memang anak yg paling dekat dengan Bapak, karena hanya aku yang terlahir dengan ada Bapak mendampingi Ibu. Kakak-kakakku baru tinggal bersama saat aku umur 1 tahun, tapi tetap saja aku adalah anak kesayangan Bapak. Waktu itu sangking cemburunya dengan my sister aku melempar Bapak dengan pisau lipat…gila kan..heheheh untung saja tidak kena. Ceritanya waktu itu adalah bangun tidur biasanya Ibu sudah menyediakan panganan kecil, tapi hari itu tidak. Bapak baru pulang dr kerja, dan menyuruh my sister untuk beli di depan rumah. Tapi my sister manas-manasin aku dan bilang ke Bapak kalo aku gak usah dibeliin,entah mengapa saat itu aku sudah sangat marah sekali, tanpa sadar di dekat aku ada pisau lipat Bapak, langsung saja ak lemparkan ke Bapak…gak ngebayankan usiaku saat itu adalah 3 tahun. Saat-saat bersama Bapak sangat aku nikmati, apalagi kalo bawa mengajak aku ke Samarinda dengan mengendarai Speed Boat dengan kecepatan tinggi, berkelok-kelok melewati sungai Mahakam, atau sekedar mengantar bule-bule memancing di laut lepas. Aku memang paling sering diajak karena tidak pernah mabuk…*kangen masa-masa itu*
Masa-masa kecil begitu terekam dalam memory aku. Teringat rutinitas waktu sekolah, Pulang sekolah kami sehabis makan, kami harus tidur siang, kemudian sekitar pukul 3 or 4 Ibu akan membangunkan untuk belajar ngaji. Setelah tidak mengaji di Mesjid, Ibu mengajarkan kami mengaji di rumah, beliau memang pintar mengaji, dan terkadang mengajar ngaji teman-2nya di perkumpulan pengajian. Diajar oleh Ibu sangat keras, kami harus mengulang surat yang sebelumnya kami baca, kalo belum hafal kami akan di turunkan ke ayat sebelumnya, tapi kalo sudah bacaannya benar kami boleh melanjutkan ke ayat berikutnya. Ngaji dengan Ibu membuat aku selalu menangis, karena kalo aku sudah malas cubitan ibu di paha akan segera mendarat…hahahahhaPaha aku dulu selalu ada bekas cubitan biru-biru, tapi itulah ibu dengan cara megajarnya yang membuat aku bisa bertahan. Kalau aku sudah menangis sekitar pukul 4 ketika Bapak pulang kerja, dan Ibu mulai mengadukan kemalasanku, dengan santainya Bapak akan memberikan recehan uang 100 rupiah, saat itu uang sebesar 100 rupiah masih sangat berarti, secara kami jarang di kasih uang untuk jajan diluar, semua kebutuhan sudah disediakan oleh Ibu, jadi jangan harap kami sering jajan di luar. Hal itu yang selalu mengingatkan aku akan orang tua, hal-hal kecil yang sangat berarti…
Kami diajarkan untuk melakukan semua kegiatan Rumah sendiri, aku kebagian cuci piring, nyapu dan buat teh untuk Bapak sepulang kerja. Ibu tidak pernah menggunakan pembantu, anak-anaknya diajarkan untuk mandiri sejak kecil. Kami akan mendapat kerjaan sesuai dengan kemampuan. Tapi aku punya alergi terhadap debu, itu sering menjadi alasan aku untuk tidak menyapu…hehehhe..tetap aja akhirnya kena pukul..hihihi.
Kerengganganku dengan Bapak mulai terasa saat aku menginjam kelas 2 SMA. Saat ponakan aku yang pertama lahir. Terus terang aku merasa cemburu dengan hadirnya ponakanku, secara sejak dulu perhatian terbesar ke aku. Aku menjadi anak yang jarang di rumah, semua kegiatan extra di sekolah aku ikutin, Bola basket, Volly, Paskibra, Pramuka, or sekedar ke perpustakaan Dharmawanita untuk baca-baca menu masakan or SMURF. Kemudian kegiatan ku semakin bertambah sejak kelas 3 SMA, aku sering pulang malam, karena persiapan Ebtanas, dan aku merasa aku tidak secerdas waktu SD. Mungkin karena aku malas. Kakak Iparku pernah bertanya dengan Ibuku, diantara aku dan my sister siapa yang lebih cerdas. hahhahah…ibu akan menjawab"dua-duanya pintar dan cerdas, cuman kalo Kak Ita lebih rajin dibanding Iin" memang benar aku merasakan itu, aku akui kak Ita memang lebih rajin dari aku, dia orang yg tidak kenal lelah. Terbukti dengan kesuksesan dia sekarang sebagai pebisnis. Setelah lulus SMA hubunganku dengan Bapak menjadi biasa saja, aku berpikir apakah teman-temanku juga merasakan hal yg sama? aku tidak bisa sedekat dulu, tidak bisa minta gendong belakang lagi, apa karena aku juga sudah dewasa???..hehehhe.
Tapi aku masih menikmati kebersamaan itu dengan beliau, apalagi saat Bapak mengantarkan aku dr Bontang-Balikpapan dengan mobil. Hanya berdua perjalanan 4 jam, aku sangat menikmati,karena gak ada cucu yang merebut perhatiannya.
Sekarang aku baru merasakan betapa bahagianya saat bersama keluarga besarku, berkumpul dengan ponakan dan sepupu-2, dan aku sudah tidak sabar menanti setiap tahunnya untuk datangnya Lebaran. Bermain kembang api atau sekedar berkunjuang ke rumah Bibiku di Sangata, melewati hutan-hutan dengan Mobil Hard-Top hijau Bapak, yang kata dd’ Opam, mobil perangnya "Kai"…jadi tidak sabar untuk pulang.
Bapak, ibu…saya datang…!!!